large

Ahmad The Guided One

Harga: Rp 125.000
Rp 125.000
You Save: 0.00 %



  • Description

Kode Produk : pt-1276
No. ISBN : 9786237177661
Penulis : Iain Adamson
Penerbit : LKiS
Tanggal Terbit : 2021
Jumlah Halaman : 362
Berat Buku : 0.70 kg
Kategori : Sosial Budaya
Bonus :
Sisa Stok : 2000
Terjual : 112

Sinopsis :
Ahmad Najib Burhani
Profesor Riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Literatur tentang Ahmadiyah dan Mirza Ghulam Ahmad bisa dibagi dalam empat kategori besar. Pertama, tentu saja, adalah karya-karya yang ditulis oleh pendiri Jemaah ini, para khalifahnya, tokoh-tokoh dan muballighnya, dan juga para anggotanya. Literatur yang masuk kategori ini disebut sebagai rujukan primer dan jumlahnya sangat banyak, termasuk karya tulis Mirza Ghulam Ahmad sendiri yang jumlahnya sekitar 85 buku. Khusus terkait genre sejarah, ada berbagai karya penting yang ditulis pimpinan dan anggota Jemaah Ahmadiyah sejak gerakan ini berdiri tahun 1898 yang lalu. Meski tentu saja harus dicatat bahwa ada juga karya dalam kategori ini yang bersifat hagiografis. Ini wajar terjadi karena sebagai insider kadang sulit mengambil jarak dengan obyek yang ditulisnya dan subyektivitas kadang melekat dalam diri penulis tanpa dirasakan.

Kategori kedua dari literatur tentang Ahmadiyah adalah yang ditulis oleh mereka yang terang-terangan memposisikan diri sebagai musuh, atau mereka yang diam-diam membenci, atau paling tidak mereka yang tidak menaruh empati dan simpati terhadap gerakan ini. Karena Ahmadiyah adalah gerakan yang unik dan kontroversial, karya-karya jenis ini jumlahnya juga cukup banyak. Di Indonesia, literatur jenis ini bisa ditemukan dalam karya Amin Djamaluddin, Hartono Ahmad Jaiz, Ahmad Hariadi, dan lainnya. Di India dan Pakistan, karya jenis ini jumlahnya lebih banyak lagi. Diantaranya adalah karya Abul A’la al-Maududi dan Abul Hasan Ali Nadwi. Dalam karya-karya ini, Ahmadiyah tentu dipandang sebagai gerakan sesat dan heretik. Pendirinya disebut nabi palsu atau tukang mimpi.

Kategori ketiga adalah karya-karya akademik tentang Ahmadiyah yang bisa ditulis oleh orang Ahmadiyah sendiri maupun non-Ahmadi. Akademisi itu cirinya adalah mengambil jarak dari keyakinannya atau melakukan “bracketing”. Banyak dari mereka hanya melihat aspek-aspek tertentu saja dari Ahmadiyah. Sebelum tahun 2000, akademisi ternama tentang Ahmadiyah diantaranya adalah Yohanan Friedmann dan Wilfred Cantwell Smith. Setelah tahun 2000, jumlah sarjana yang mendalami Ahmadiyah semakin banyak. Diantaranya adalah Adil Hussain Khan dengan bukunya From Sufism to Ahmadiyya (2015).

Kategori keempat adalah karya-karya non-akademis yang ditulis oleh chroniclers atau biografers, novelis, dan wartawan. Di Indonesia, karya Okky Madasari yang berjudul Maryam adalah cerita tentang Ahmadiyah dalam bentuk novel. Cerita ini mengambil fokus tentang nasib Jemaah Ahmadiyah di Nusa Tenggara Barat. Ciri dari literatur kategori keempat ini adalah bahasanya yang lebih hidup dan komunikatif dengan pembaca. Ia tidak dibebani oleh catatan-catatan kaki atau referensi. Ia bahkan, dalam konteks novel, bisa memasukkan atau menggabungkan fiksi dan non-nonfiksi di dalamnya.

Buku Iain Adamson yang ada ditangan pembaca ini adalah kategori keempat dalam literatur tentang Ahmadiyah dengan mengambil genre sejarah sebagai fokusnya. Meski judulnya Ahmad the Guided One, namun bukan ini tidak hanya bercerita tentang Mirza Ghulam Ahmad. Rentang sejarah yang ditulis sangat panjang. Sejak Ahmadiyah belum berdiri hingga saat penulisan buku tersebut. Ini misalnya terlihat dalam dua bab terakhir yang berjudul “Para Khalifahnya” dan “Abad Kedua”. Tentu saja sebagian besar isinya adalah tentang kehidupan Mirza Ghulam Ahmad dengan mengambil poin-poin atau peristiwa-peristiwa terpenting atau milestones dari gerakan ini pada masa-masa awal kelahirannya hingga wafatnya Sang Mahdi. Dengan membaca buku ini, jejak-jejak perjuangan Ahmad akan tergambar secara lebih hidup, seakan berkomunikasi dengan umat saat ini. Beberapa doktrin atau ajaran inti dari Ahmadiyah, seperti tentang Wasiat, Jihad, sistem Khilafah, dan konsep Al-Masih, juga tersampaikan melalui berbagai bab yang ditampilkan dan juga baris-baris penjelasan di dalam buku. Tanpa mengerutkan dahi, pembaca akan bisa mempelajari sejarah Ahmadiyah, termasuk keunikan dan karakter-karakternya yang distingtif, melalui buku ini. Selamat membaca!


M. Imam Aziz
Ketua Harian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Jakarta

Buku ini merupakan kajian sejarah pemikiran sekaligus sejarah sosial yang menguak lugas jalan intelektual dan spiritual Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Gerakan Ahmadiyah.

Akhir abad 19 memasuki abad 20 kawasan Islam nyaris terpuruk. Di satu sisi kejayaan imperium Islam berada di titik nadir oleh berbagai sebab. Sementara imperialisme dan kolonialisme membuat situasi umat Islam bertambah kelam. Nyaris tak ada harapan dan masa depan Islam.

Ahmad mengalami dan mendalami situasi itu dengan penuh kesadaran dan menjalani “laku” spiritual yang cukup berat. Hingga akhirnya mengalami kasyaf – pencerahan spiritual. Ahmad dibimbing untuk me-revitalisasi Islam sebagai respon atas situasi. Ahmad tidak mengubah prinsip Islam. Ia mengisi ruang kosong yang akan menjadi pendorong dinamika Islam.

Tema-tema yang diangkat Ahmad tentang hakikat kenabian, Isa al-Masih, Mahdiisme, dan khilafah menjadi respon sekaligus elan baru yang terbukti membuat Islam di India waktu itu sangat bergairah. Tak hanya di India, gerakan pemikiran Mirza Ghulam Ahmad itu menarik perhatian dan menginspirasi tokoh-tokoh Islam dunia. Mirza Ghulam Ahmad adalah pembaharu pemikiran Islam, yang sekaligus memberi jawaban atas krisis sosial yang akut.

Abdul Mu’ti
Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Buku Ahmad Sang Mahdi yang ada di tangan pembaca menjelaskan secara lengkap tentang siapa sesungguhnya Mirza Ghulam Ahmad dan menjawab banyak hal yang selama ini menjadi kontroversi dan salah paham di kalangan masyarakat, khususnya umat Islam.

Meski demikian, buku ini harus dibaca dengan sangat hati-hati dan pikiran yang terbuka. Terdapat istilah-istilah kunci seperti wahyu, nabi, pembaharu, dan Yesus yang harus dibaca sesuai konteks dan konsep asli sebagaimana dipahami oleh Mirza Ghulam Ahmad.

Buku ini sangat penting dibaca oleh para pemerhati pemikiran dan gerakan Islam untuk memperluas khazanah serta perbandingan. Tidak semua pembaca harus sependapat. Akan tetapi, dengan membaca buku ini semoga akan tumbuh sikap saling memahami.


Flower

Flower


Whatsapp :
081234272873


Email :
marketinglkisgroup@gmail.com (Pemasaran)
marketing@lkis.co.id ( Pemasaran )

KANTOR PUSAT

Jl. Parangtritis Km. 4,4 Salakan Baru No. 1 Sewon, Bantul, Yogyakarta Telp : (0274) 387194 Fax  : (0274) 417762
HP.  : 0812 2980 4011 / 0856 0033 4442

PAYMENT METHOD

SHIPPING METHOD

Copyright © 2016 - 2022 lkis.co.id. All Rights Reserved. Developed by AyoMahir.com