|
Membedah Cakrawala Gus Mus |
|
Written by admin
|
|
Thursday, 25 June 2009 |
Judul buku : Gus Mus; Satu Rumah Seribu Pintu
Penulis: Labibah Zain & Lathifatul Khuluq
Penerbit: LkiS, Yogyakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: xxiv + 290 Halaman
Peresensi: Fuad Hasan*)
Ibarat sebuah rumah, Gus Mus memiliki seribu pintu, setiap orang bisa masuk dan keluar darimana pun ia suka. (Hamdy Salad).
KH Mustofa Bisri (Gus Mus) ini, merupakan sosok seorang yang
kompleks dalam berbagai bidang keilmuan. Selain kepak sayap
kecerdasannya sebagai ulama penegak Syari’at Islam, Gus Mus juga
seorang yang berkompeten dalam bidang intelektual, jurnalistik,
kebudayaan, serta kesusastraan.
|
|
Last Updated ( Thursday, 25 June 2009 )
|
|
|
Written by admin
|
|
Friday, 12 June 2009 |
|
Judul Buku : KH. MOH. TOLCHAH MANSOER ; Biografi Profesor NU Yang Terlupakan
Penulis : Caswiyono Rusydie Cw, Zainul Arifin, Fahsin M. Fa'al
Pengantar : Prof. Dr. KH. Moh. Tolhah Hasan & HM. Fajrul Falaakh, SH, MA, M.Sc.
Epilog : Idy Muzayyad, M.Si.
Tebal : xxxvi + 290 hlm.
Cetakan : I, Juni 2009
ISBN : 979-3381-32-9
Harga : Rp. 35.500,-
Membaca buku ini, yang pertama muncul di kepala saya adalah ingatan terhadap Jas Merah Soekarno: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Melupakan sejarah berarti melupakan pijakan di atas bumi, mengingkari asal-usul sendiri. Melupakan sejarah tidak lain mencerabut kedirian sehingga membiarkan jati diri melayang-layang. Tanpa arah, tanpa tujuan. Sebab, masa lalu adalah sebuah tempat dimana seseorang dapat bercermin dan belajar: mengunduh kebijakan dan menghindari keteledoran. Bukan sekadar kenangan, masa lalu lebih merupakan suluh yang dapat menerangi jalan menuju ke masa depan. Membaca masa lalu berarti mengaca diri kita sekarang, sekaligus ‘meramal’ dan merencanakan diri kita di masa datang.
|
|
Last Updated ( Thursday, 25 June 2009 )
|
|
|
Tahlil: Haruskah Dikontroversialkan (Lagi)? |
|
Written by admin
|
|
Monday, 15 June 2009 |
 Judul Buku: Tahlil dan Kenduri; Tradisi Santri dan Kyai
Penulis : H.M. Madchan Anies
Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : 1, Februari 2009
Tebal : xii + 180 halaman
Peresensi: Umniyyah Lathifah*)
Tradisi tahlil sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat, khususnya bagi umat Islam warga Nahdliyyin. Biasanya, kegiatan tahlil ini dilaksanakan ketika ada acara kematian yang biasanya digelar pada hari ke-7, 40, 100, dan 1000 bahkan setiap tahun dari kematiaannya. Salah satu tujuan “tahlilan” adalah sebagai sarana untuk mengirimkan do’a kepada si mayat agar kelak mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 1 - 3 of 47 |